selama ini kemana saja jiwa saya berpergian? kenapa terasa begitu terik dan kuat perasaan seperti ini. semakin pekat persekian detiknya.
kau tahu, betapa satu hari saja aku merindu pada hal semu. hal yang seharusnya tak ku tunggu. aku tak ingat bagaimana rasanya mencintai untuk terakhir kalinya, terlalu mengharu biru dan setahuku memang semu. kau tahu, betapa hari ini tetes-tetes air mata jernih yang meluncur di tulang pipiku jadi saksi lucu mengatakan bagaimana aku terlupa akan sinar yang kusebut cinta.
kepadamu sang filosofis, apa terlihat sehari saja ku keluhkan segalanya mengenang betapa aku menginginkan sebuah janji. yang terucapkan seseorang di depan hatiku, cuma kiasan kalimat panjang yg membuatku jatuh hati.
bagaimana kamu memandangku selama ini? apa tak terlintas dalam benakmu untuk sebentar saja mengulurkan tanganmu, tunjukan telunjukmu letakkan di tulang pipiku. tolong bersihkan aku dari butir demi butir air yang kian membasah. pernahkah kau ingin membantuku tersenyum biar kau katakan jutaan kata cinta tak mengapa, aku butuh kenyataan.
dari mana aku bisa tahu bagaimana rasa itu telah ada? darimana aku bisa menilai? darimana aku bisa bertahan jika selama ini kamu menuntunku entah kemana. dan di tepi jalan...
di tepi jalan,
kenapa kamu kembali ke arah yang salah?
untukmu seseorang yang mengubah segalanya. katakan saja aku mencintaimu, entah sampai kapan. katakan saja aku tak tahu bagaiamana perasaanmu. tapi kini detik demi detiknya aku ingin tumbuh lebih dan lebih rendah. agar aku patut mengalah
mengalah pada siapa?
mengalah padamu yang tak tahu arah.
salam cinta,
nb : kemana saja kamu?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar