dalam tatapan mata yang menyendu, di sudut gerbang kelabu aku menunggu nunggu yang tak seharusnya ditunggu. alas bedak kaku mengharu birukan pipiku untuk kembang kempis menahan sakit di tempat paru paru. nafasku tersendat sendat sakit tak kuasa menahan kenyataan terpahit.
lalu mataku memicu pada sesuatu, inikah yang disebut novel hidup? ia datang menemuiku melenggang kaku seakan tak mau lagi bertemu. ia datang merasuki setiap langkah yang kubuat kaku. apa aku salah lihat? eyeliner membiarkan mataku terlihat bulat, tegas walaupun cahayanya surut berangsur angsur memburuk. ada segenap perasaan bahagia, namun bahagia itu hanya berterbangan dalam fantasi.
ia membawaku lari, kemudian aku bahagia. tak tau disinilah terakhir kami berjumpa. emosi meninggi, tak tau lagi harus berkata apa. aku mengharus biru dalam kalbu, tak tahu harus berguna apa. dia menyuruhku pergi. dia memintaku untuk berlari sendiri. bagaimana bisa? hidupku baru saja dimulai dengannya. takdir mempertemukan kami dari lima tahun yang lalu, kemudian baru mengizinkan kami bersama belakangan ini.
kenapa nasib lalu menggeret kami berpisah?
masih kekeh menolak ini bukan perpisahan. aku berangsur angsur memaksa padanya, agar ia kembali. namun Tuhan menutupkan jalan dari segala arah bagi kami. tiada lagi kami, sekarang berganti aku dan kamu yang berjalan ke arah berbeda.
entah akankah ada kita kembali, atau bahkan sama sekali tidak akan ada masa yang mempertemukan kita? langit berangsur angsur pudar, berangsur angsur pergi tanpa meninggalkan sejejak pun sinar matahari. aku kaku berdiri, tak bisa duduk atau berlari. aku menantimu disisi pagi, namun kau tak lagi disini. meninggalkan segenap luka dan aku hanya dapat menerima.
entah hanya aku yang merasa, atau sama juga dengan kamu. apa mungkin kamu di tempat yang sama? tempat yang kita sebut dengan gelap?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar