saya sedang meniti hari demi hari, menggantungkan harapan bagai pakaian di gantungan jemuran.
saya sedang mengamati matahari perlahar-lahar terbit dan terus kembali
apa kamu masih meminta saya untuk mengukur jengkal demi jengkal harapan yang tengah saya nanti?
apa saya harus menghitung intensitas cahaya matahari yang sedang saya nantikan kambali?
harus?
kadang hal bodoh yang saya lakukan ini, begitu indah dan dengan rela hati saya lakukan demi ketiadaan
kadang hal menyakitkan ini saya cintai, begitu cintanya sampai sampai turut sumbangsih batin demi kenyataan
itu terjadi hanya saat saya benar benar yakin anda ada disini, meniti harapan bersama saya
sehingga saya yakin, saya tidak sedang berjuang sendirian
sehingga rasa di dalam dada saya semakin melambung tinggi
percaya benar bahwa anda memang layak dinantikan
saya sedang mencoba bertahan dan mengikhlaskan
pada apa yang kelak akan terjadi
terburuk juga terbaik
kalau bisa saya putar kembali
jelas saya tidak mau bertemu anda
tapi kamu, adalah satu hal yang paling saya syukuri dan tidak patut untuk saya sesali
Tidak ada komentar:
Posting Komentar